Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Kisah Seks Nyata Ku Ngentot Anal Waria dan Istriku 4
Piool.com - Lihat tuh, gaya makannya. Uuhh.. Indahnya bibirnyaa.. Rasanya aku mau jadi sendoknya. Mulutnya yang sungguh tegas garis-garisnya membuat Nico nampak sangat jantan. Aku dan Bella langsung jatuh hati.
Nggak usah bayar, deh, Nik. Biar aku jilati dadamu, lehermu, pentil susumu, kaki-kakimu. Biar kuminum ludahmu atau kalau kamu mau, aku juga akan minum air kencingmu. Begitu gelora syahwat yang berkobar di hatiku. Aku sangat berharap dan menunggu lamarannya. Mungkin demikian pula Bella.
Seusai makan kami meneruskan ngobrol sebelum pada akhirnya dia melihat jam tangannya,
“Terima kasih Lisa dan Bella. Saya makan sangat nikmat kerena bersama anda hari ini. Sayang saya harus balik kantor. Siapa tahu lain waktu kita bisa jumpa lagi”.
Yaacchh.. Sayaang..
Dengan perasan kesal dan kecewa kami melanjutkan ‘window shopping’ hingga kakiku pegel. Sekitar jam 2 siang Bella ngajak naik ke Teater Darmo Plasa 21 di lantai 5. Tak ada film yang menarik. Aku usul pada Bella bagaimana kalau kita terusin saja ngobrol di cafe teater itu. Siapa tahu ketemu orang macam Nico lagi. Aku masih penasaran.
Ternyata ini cafe yang sangat laris. Suasananya sangat akrab. Rupanya tempat ini menjadi tempat ‘rendesvous’ bagi para muda-mudi Surabaya. Kursinya-kursinya nyaris selalu penuh. Kami langsung jadi pusat perhatian. Seorang pelayan menunjukkan kursi kosong di pojok sana.
Aku minta capuchino dengan cake seledri. Entah Bella. Aku rasa banyak mata kini tertuju ke kursi kami. Aku bergaya ‘cool’, demikian pula Bella. Saat aku menarik kursiku, mataku beradu pandang dengan seseorang yang duduk pada meja sebelah meja depanku. Tidak terlampau menarik, tetapi orang ini, atau tepatnya anak ini gayanya simpatik sekali.
Wajahnya yang bercorak Semit mengingatkan aku pada seorang selebritis cowok bernama Didi Riadi yang pemain drum dan bintang sinetron itu. Tubuhnya hanya dibungkusi kaos oblong ber-iklan rokok kretek terkesan anak yang cuek. Rambutnya yang dilepas begitu saja men-citrakan sebagai anak muda yang santai dan bebas.
Terkait
Dia mengangkat alisnya. Itu adalah bentuk kontak komunikasi antar para gay atau dengan waria macam kami sekarang ini. Aku memandangnya dengan menebar senyumanku. Sesudah itu kami bermain mata. Bella melihat gayaku dia tersenyum geli,
“Ah, laparnya si Lisaa..!”.
Namun rupanya hanya sebatas itu yang bisa dilakukan anak itu. Anak ini tidak berusaha lebih jauh, misalnya mendekat dan mengenalkan dirinya. Mungkin belum percaya diri. Maklum masih sangat muda. Aku taksir paling baru 19 atau 20 tahunan. Lanjut baca!

No comments :
Post a Comment
Leave A Comment...