Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Kisah Sek Nyata Ku Ngentot Anal Waria dan Istriku 6
Aopok.com - Bella cerita bahwa di Tunjungan ada tempat ngumpulnya waria. Di salon B&I, milik Budi dan Ine. Kedua-duanya adalah waria. Ternyata aku aku telah kenal mereka saat sama-sama mejeng di jalan IB. Nyaman juga tempat ini. Beberapa waria nampak sedang mencukur atau merapikan rambut para pelanggan.
Kulihat ada bapak-bapak yang sedang creambath di kursi 7 terus menerus mencuri pandang ke aku. Kayaknya usianya sekitar 50-an. Kumisnya lebat. Ahh.. Sudah lama aku menginginkan kumis macam itu. Aku bayangkan betapa menggelitiknya saat meng-‘usel-usel’ selangkanganku. Atau saat mengendusi pantatku. Apa dia mau?
Sesungguhnya aku masih ingin ber-lama-lama duduk di salon itu. Sambil nungguin tuh bapak. Siapa tahu dia benar naksir aku. Tetapi Bella mengajak aku ‘window shopping’ lagi. Apa boleh buat. Menyenangkan teman lebih penting, khan?!
Hari sudah mulai gelap. Jam tanganku menunjukkan pukul 7 malam. Aku lapar. Bella aku ajak masuk ke restoran cepat saji dan banyak pilihan Happy Times. Aku suka makan Thai yang pedas dengan Tom Yam Kung-nya. Bella memilih makan yang lebih ringan tanpa lemak, Salad Tuna. Kami makan dengan santai sambil menunggu waktu ke jalan IB.
Surabaya di waktu sore. Ahh.. Betapa nikmat ‘full waria’-ku. Jalan-jalan, ‘masochisme erotic’, makan, ‘ngentot’ atau di-‘entot’, menjilati sperma lelaki ngganteng.. Ini hari ke. 4 ku sebagai ‘full waria’.
Sekitar jam 8 malam kami beranjak dan pergi ke jalan IB markas besarnya para waria Surabaya. Saat aku turun dari taksiku, sebuah sedan Mercy 300 SE th. 2004 berderit berhenti di dekatku. Seseorang membuka pintu, turun dan memanggil aku,
“Lisaa.., apa kabar..??”. Ramah tetapi aku belum mengenalnya. Dia bergegas mendekatiku.
“Kenali, dong. Oscar”, sambil mengulurkan tangannya.
“Aku nunggu kamu, lho. Sudah 1 jam sejak tadi”,
“Aku tahu kamu dari Vera. Tuh yang berdiri dekat lampu”, Ya.., aku tahu Vera, dia juga teman baikku.
“Mau nggak jalan sama aku. Kita ke motel, yok”, bisiknya.
Aku memandang Bella yang menyusul turun dari taksi. Dia menganggukkan kepalanya. Itu tanda bahwa dia mengenal pria ini dan menyilahkan kalau aku minat pada ajakannya.
“Oke, Mas. Terserah Mas deh. Kemanapun aku dibawa terbang aku akan.. Hheecchh.. “, aku teruskan kata-kataku dengan remasan pada selangkangannya.
Itulah dialog para orang jalanan. Vulgar dan’to the point’ sesuai dengan tujuan-tujuan utama dari setiap perjumpaan di jalan IB ini. Aku masih pengin tahu, kenapa dia tidak ambil Vera saja. Dan bahkan Vera kemudian menunjukkan ke aku. Ternyata Oscar sedang pengin waria yang berpenis gede. Dan Vera tahu aku.
Terkait
Kami memasuki halaman motel. Entah di mana ini. Oscar memilih motel VVIP. Sesudah parkir kami masuk ke kamar. Oscar langsung memaguti bahuku. Hatiku berdesir. Lelaki ini sangat terobsesi pada diriku. Saat bibirnya ketemu bibirku aku menyambutnya dengan penuh antusias. Ternyata dia pintar merangsang syahwatku. Lidahnya menjilat rongga mulutku. Ludahku disedot habis olehnya.
Untuk lebih mematangkan situasi aku raih selangkangannya. Kuremasi celana yang membungkus kemaluannya. Kurasakan penisnya yang telah tegang mengeras. Kuelus dan terkadang kupiji-pijit. Kami pelan bergeser untuk rebah ke ranjang. Dengan terus melumat bibir dia menindih tubuhku. Kami berguling dalam dekapan. Sepintas bau tubuhnya menyergap hidungku dan meningkatkan hasrat birahiku. Lanjut baca!

No comments :
Post a Comment
Leave A Comment...